Let the Sun go (-^-)_

Sebenarnya puisi ini sudah lama ingin aku posting, tapi niatnya baru kesampain sekarang, yah masih dalam suasana Galungan & Kuningan yang hangat ditengah keluarga. Saatnya menulis sesuatu! hehe, puisi yang sudah agak usang, tapi masih dalam keadaan segar dibandingkan dengan dodol ‘surudan‘ galungan yang sudah agak ‘piing’, hihihi.. ^^

Kayaknya kalo ini jadi intro lagu, bakal kepanjangan ya,oke-oke-okee..

Let’s check it out!

Let Sun go ..

Matahari, sesuatu mengembun dan menetes dari mataku.

Tertahan perih. terusap sakit,

Merapatkan segumpal awan mendung dalam jalanku.

Memanas,

Lalu menguap..

Mendingin,

Lalu membeku..

Bagai sebuah siklus yang tak bisa aku elak .

Matahari, aku semakin tak mengenal dan kehilangan cahayamu

Matahari, akankah kau mengenalku?

Aku adalah sebongkah titik cahaya terang dalam jutaan hamparan Tata Suryamu..

Dalam sebuah galaksi tak berbatas, aku kerlipan kecil diantaramu.

Dalam beribu hiruk pikuk pelita dan kilauan sinarmu, aku meredup.

Matahari, andai aku punya sinar nan mega, aku ingin menerangimu,

Walau hanya berdiri dibelakang dan mengintip sebagai bayanganmu,

Semoga tak ada rasa gusar dan kata pilu.

Matahari, andai aku Bulanmu,

Kan kuterima pantulan sinarmu,

Kujaga dan kutebarkan disetiap malam-malam utusanmu.

Bulan, sebagaimana yang selalu bergantung dan membutuhkanmu.

Hm.. sayangnya tidak, sayangnya bukan.

Matahari, bersinarlah selalu,

Walau itu bukan teruntuk padaku..

Nah! Ini dia.. Tragis sekali puisi ini..

Kalo ada yang mau copy-paste, ingat-ingat sikap ilmiah ya; jujur..

hehe, ini karya asli saya, thanks untuk yang sudah mampir dan baca-baca..

Terinspirasi dari seseorang, yang bahkan hanya saya kenal sepintas.

Leave your comment!

– Dinda Paramita Ayu 🙂 _